RSS

Normalkah perkembangan anakku ?

10 Dec

Pertanyaan ini sering ditanyakan orangtua yang memiliki anak usia bawah 5 tahun kepada saya. Munculnya pertanyaan ini berkaitan dengan semakin beragamnya informasi tentang perkembangan anak dan penyimpangannya, sehingga semakin banyak orangtua yang merasa khawatir mengenai tumbuh kembang buah hatinya. Ditambah lagi anak usia demikian, masih belum bisa diajak berkomunikasi dengan lancar karena keterbatasan kosa kata.

Ada pengalaman nyata seorang teman saya, ia kerapkali menanyakan mengapa anaknya belum bisa bicara dengan lancar. Usut punya usut ternyata anaknya masih belum genap 2 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Ya… wajar saja jika bicaranya masih sepatah 2 patah kata dan memang biasanya perkembangan bahasa anak laki-laki memang lebih lambat dibandingkan anak perempuan. Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti karena sekarang anak itu sudah berusia 4 tahun, tumbuh menjadi anak yang lincah, sehat dan fasih berbicara. Nah.. siapa yang khawatir berlebihan ?

Ok, mari kita definisikan ulang mengenai normal dan tidak normal. Normal dapat diartikan tumbuh sesuai dengan kebanyakan orang atau rata-rata, tidak mengalami kelebihan atau kekurangan pertumbuhan. Orang yang buta sejak kecil berarti ia mengalami kekurangan sedangkan anak yang mampu mengingat hal-hal yang tidak biasa misalnya nama presiden di dunia, dapat digolongkan kelebihan. Pertumbuhan normal memiliki jumlah populasi yang terbesar. Coba bayangkan sebuah gambar gunung yang dipotong vertikal menjadi 3 bagian, bagian kiri, tengah dan kanan. Yang dikatakan normal adalah bagian yang terbesar dari gunung yaitu bagian tengah. Sedangkan bagian kiri dan kanan yang lebih kecil ukurannya adalah bagian yang tidak normal (karena kelebihan atau kekurangan). Daerah gunung sebelah kiri adalah daerah pertumbuhan anak-anak yang memiliki kekurangan misalnya IQ yang rendah. Sedangkan bagian sebelah kanan adalah bagian yang kelebihan misalnya IQ yang tinggi. Penentuan anak tergolong daerah kiri dan kanan membutuhkan prosedur pengamatan yang lebih panjang sebelum sebuah diagnosis diluncurkan karena hal ini berkaitan dengan kekurangan atau kelebihan yang terjadi di tubuh fisiologis anak. Sedangkan masalah yang terjadi pada anak yang termasuk bagian tengah kebanyakan lebih disebabkan oleh pola asuh dan hubungan orangtua-anak.

Bagaimana menentukan anak kita termasuk bagian kiri, tengah atau kanan ? Untuk masalah ini, gunakan intuisi. Ingat intuisi adalah gabungan dari pengetahuan dan pengalaman. Dari mana mendapatkan pengetahuan dan pengalaman ? Ya… dengan belajar mengenai perkembangan anak yang normal dari beragam sumber. Intuisi kita sebagai orangtua adalah jurus ampuh dalam membentuk masa depan anak. Coba kita ingat kembali pengalaman Thomas Edison dan Albert Einstein, intuisi orangtuanya terutama ibu, menyelamatkan masa depan kedua anak itu, bukan ? Bagaimana misalnya jika kedua ibu tersebut mendengarkan perkataan guru anak-anak mereka ? Tentunya sekarang kita mungkin tidak akan menikmati benda yang disebut dengan lampu dan mungkin juga kita tidak akan mengetahui mengenai Teori Relativitas Einstein dong.

Saya bisa memahami posisi para orangtua ketika dihadapkan pada masalah anak yang menurut mereka tidak normal. Reaksi pertama mereka adalah panik. Kemudian mencari informasi, entah bertanya dengan tetangga, orangtua, teman atau profesional. Saran yang paling masuk akal dan diberikan oleh pihak yang dipAndang memiliki otoritas adalah yang dilaksanakan. Eitt… tunggu dulu… saran itu belum tentu benar lho.

Mari kita runut satu persatu kejadian diatas. Kepanikan terjadi karena kita tidak memiliki data dalam otak kita cara menangani masalah yang terjadi. Karena tidak tahu apa-apa kita bingung kemudian menggunakan cara yang sudah diketahui untuk mengatasinya dan masalah lain muncul karena belum tentu benar. Untuk itu, reaksi yang berikutnya adalah benar yaitu mencari informasi. Nah.. dimana informasi itu didapat ? Kita dapat mencari informasi dengan bertanya kemudian lakukan cek ricek dari sumber lain yang bisa dipercaya misal dari buku, majalah, internet. Jangan dengarkan bisikan malas yang sering terlintas dalam benak kita jika berhubungan dengan BELAJAR karena ini adalah masalah masa depan anak kita.

Kedua, jika kita meminta bantuan profesional (terutama jika kita curiga masalah anak kita termasuk daerah kiri atau kanan), kita harus mengingat satu hal penting ini. Mintalah pada ahli tersebut untuk mengamati perilaku anak kita dalam suasana dimana anak kita bisa menjadi diri mereka sendiri, nyaman, dan senang. Jika sang ahli menghasilkan diagnosis hanya dengan mendengarkan perkataan kita, seperti dokter badan, maka sebaiknya kita mencari ahli lain yang lebih kompeten. Mendiagnosis kebutuhan khusus seorang anak membutuhkan observasi yang mendalam bukan hanya berdasarkan simptom yang disampaikan oleh orangtua. Hal ini berbeda dengan pergi ke dokter badan, dokter hanya mendengarkan gejala, memeriksa bagian-bagian tubuh yang dinyatakan sakit kemudian memberikan diagnosis dan resep. Mendiagnosis masalah anak (yang tergolong daerah gunung kiri dan kanan) kadang-kadang membutuhkan waktu 1 hari bahkan 2 hari karena hal ini bukanlah masalah mudah. Diagnosis itu harus didasarkan pada nama kebutuhan dari anak, penyebab kebutuhan itu muncul dan perencanaan penanganan yang tepat bagi anak. Rumit kan ? Tidak kok … bagi yang sudah terbiasa dengan dunia anak.

Ada pengalaman berharga bagi saya sehingga sangat membantu saya lebih berhati-hati dalam mendiagnosis masalah anak. Saya memiliki klien seorang anak perempuan, cantik dan manis, yang memiliki kebutuhan khusus daerah sebelah kiri. Anak ini berusia 5 tahun menjelang 6 tahun. Mengalami keterlambatan bahasa dan menunjukkan kecemasan yang tinggi terhadap tempat baru. Di kelas ia sering terlambat dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Pernah ketika emosinya memuncak, ia mencakar gurunya untuk melampiaskan emosinya. Ia sangat takut terhadap kata belajar dan dokter. Mamanya telah membawanya untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater di Surabaya. Hasil diagnosis psikiater ini adalah si anak mengalami autisme ringan. Hasil diagonsis ini berbeda dengan saya. Setelah saya berinteraksi dengan si anak, melakukan beberapa tes dan pengamatan, saya menyimpulkan bahwa anak ini tidak mengalami autis, hanya mengalami kecemasan yang berlebihan dan memiliki tingkat kecerdasan yang kurang. Keterbatasannya dalam kecerdasan dan kecemasannya inilah yang menyebabkan ia tidak dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya. Bagaimana mungkin seorang anak autis dapat menyatakan perasaannya mengenai ketakutannya terhadap dokter dan mampu berinteraksi, bermain dan tertawa dengan anak sebayanya ? Kurang tepatnya melakukan diagnosis semacam ini yang menyebabkan saya merasa sedih. Anak-anak jadi tidak mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

Nah… jika menemui pengalaman serupa dengan anak kita maka yang pertama harus Anda lakukan adalah tenang, cari informasi, cek ricek, nilailah masalah ini termasuk daerah kiri, tengah atau kanan kemudian lakukan penanganan. Jika termasuk daerah kiri dan kanan maka sebaiknya kita mencari ahli yang kompeten. Jika kita menilai masalah anak hanya masalah normal/rata-rata/semua orang mengalami maka kita dapat menangani sendiri. Semuanya ini akan lebih baik jika sebelumnya kita telah membekali diri dengan pengetahuan melalui belajar terus menerus. Memenuhi kebutuhan fisik (makanan minum, pakaian, rumah) dan psikis anak (mengisi tangki cinta: mengajaknya bermain, berkomunikasi dengan baik, memberikan kejutan, memberikan waktu spesial pada tiap anak untuk berdua dengan Anda – lihat DVD Tangki Cinta Anak).

Tapi saya tetap merasa takut kalau-kalau ada pekembangan menyimpang dari anak saya, apalagi jika karena saya tidak tahu kalau itu menyimpang atau tidak ? kemudian saya membiarkannya bla bla bla … gimana donk?
Untuk itulah, kita harus tetap belajar mengenai perkembangan yang dikatakan normal dan tidak normal. Saat ini banyak majalah yang membahas mengenai perkembangan balita bahkan terdapat seri yang khusus membahas perkembangan balita dari A hingga Z. Persenjatai diri kita dengan pengetahuan.

Kita juga harus belajar untuk mengendalikan rasa cemas mengenai pertumbuhan anak kita. Ingat rasa cemas yang berlebihan terhadap perkembangan buah hati dapat mempengaruhi kesehatan psikis anak kita lho. Anak-anak usia demikian ini masih peka terhadap perasaan orang lain yang ada di sekelilingnya. Jika kita, sebagai ibu, sedang stress dan tidak bahagia, anak kita pada saat kondisi itu akan menjadi rewel. Namun jika kita sebagai ibu, sedang dalam kondisi tenang dan nyaman dengan diri sendiri maka dapat dipastikan anak kita akan lebih mudah diajak kerjasama. Kecemasan itu bisa dihilangkan dengan terus belajar mengenai perkembangan anak sehingga kita tidak buta dan memiliki wawasan kemana arah perkembangan anak kita.

Tentang kepekaan seorang anak, saya pribadi pernah membuktikan hal itu. Waktu itu saya dalam keadaan tertekan karena adanya deadline penyelesaian tesis saya. Perasaan tertekan dan cemas ini ditangkap oleh murid-murid saya yang berusia bervariasi (2,5th ,4th , 5th). Murid saya yang berusia lebih muda menunjukkan empatinya dengan minta dipangku dan saya dipeluk olehnya. Sedangkan murid saya yang paling tua, tiba-tiba duduk disebelah bangku saya, memeluk saya dan berkata,”Siani paling sayang sama Bu Sandra”. Nah lo… bagaimana mata saya tidak berkaca-kaca. Saya yang dalam kondisi sedang kosong tangki cinta terhadap diri saya sendiri mendapatkan siraman embun yang benar-benar membuat saya terharu. Saya ini bukan ibu dari murid-murid saya, tetapi mereka peka terhadap perasaan saya. Apalagi Anda yang menjadi ibu bagi anak-anak Anda. Benar begitu ?

Masa depan anak kita terletak dari pembentukan yang kita lakukan sekarang.
Masa anak-anak adalah masa paling cocok untuk menanamkan hal baik dalam diri anak karena ia masih sangat dekat dengan kita.
Setelah ia dewasa, kita hanya bisa mendoakan dia dari kejauhan karena ia sudah memiliki kehidupannya sendiri.
Belajarlah terus… karena belajar tidak pernah mati dan belajar bisa mengalahkan rasa cemas. Enjoy aja lagi…

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: